Masa Depan Digital: Integrasi dan Sinkronisasi

03 Maret 2020

Bermain dalam dunia digital berarti berlomba menghasilkan layanan yang terintegrasi dan bisa disinkronisasi dengan yang lain. Mengapa layanan? Ini karena produk saja tidak akan bisa bertahan tanpa ada layanan yang terintegrasi dan mampu disinkronisasi.

Sebenarnya, trennya sudah jelas dari dulu; dengan menjadi perusahaan digital, berarti kita harus menyediakan produk yang mampu digunakan lintas platform, misalnya dari browser laptop sampai ponsel. Produk saja tidak cukup, karena jika sudah memasuki ranah digital, produk tersebut harus bisa memberikan layanan yang juga bisa disesuaikan dengan berbagai aspek digital lainnya dalam segala aktivitas konsumen digital.

Sudah sejak lama kita mengenal dan menggunakan satu demi satu aplikasi, yang kita unduh dari app store, dan simpan ke dalam smartphone atau gawai kesayangan kita. Tentu tidak semuanya terus kita gunakan dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa aplikasi terpaksa harus dihapus (uninstall) karena memang belum dirasakan keperluan “layanan”-nya. Inilah mengapa aplikasi harus mampu memberikan lebih dari sekadar produk saja.

Integrasi dan Sinkronisasi

Dua faktor penting yang harus diperhatikan adalah integrasi dan sinkronisasi. Integrasi memungkinkan suatu produk atau layanan digital bisa dihubungkan dan digunakan bersama-sama dengan aplikasi lain, dan bahkan dengan platform yang berbeda. Sinkronisasi adalah kemampuan suatu produk atau layanan digital untuk membuat update atau perubahan data baik pada dirinya sendiri atau sebaliknya, pada aplikasi, produk, atau layanan lain karena adanya interaksi tertentu.

Layanan yang bisa digunakan lintas platform memang sudah biasa. Semakin ke depan, demand seakan mengharuskan pengembang menciptakan sesuatu yang memiliki kemampuan integrasi dan sinkronisasi. Ini penting karena istilah “kompetisi” tidak lagi dikenal dalam era digital. Hal yang jauh lebih penting supaya bisa berhasil adalah melakukan “kolaborasi”. Semua pihak, platform, maupun aplikasi tidak lagi saling bersaing, melainkan harus saling bekerja sama agar bisa memenuhi kebutuhan sekaligus memudahkan segala aktivitas konsumen digital.

Kini kita sudah bisa merasakan integrasi dan sinkronisasi berbagai perangkat maupun aplikasi digital di sekitar kita. Mereka tidak lagi berfungsi dan berjalan sendiri-sendiri, melainkan sudah terhubung, terintegrasi, dan tersinkronisasi satu sama lain. Mereka saling meng-update dan saling berbagi data. Semakin ke depan, segala entitas digital yang ada bisa jadi akan menjadi suatu kesatuan, walaupun sebenarnya mereka adalah berbagai perusahaan atau pengembang yang berbeda dan berdiri sendiri.

Layanan “All for One, and One for All”

Ke depan nanti, siapa pun yang terlalu mempertahankan platformnya sendiri, atau menyediakan layanan yang terlalu eksklusif, kebanyakan akan ditinggalkan konsumen. Kecuali jika platform tersebut sudah demikian kuat dan mampu memfasilitasi seluruh aktivitas digital yang kerap dilakukan.

Siapa yang tak kenal Google? Perusahaan yang dimulai dari garasi ini memang pertama fokus dalam teknologi mesin pencari. Ya, memang Google dikenal sebagai mesin pencari nomor satu dunia. Tapi, Google tentu berusaha lebih dari itu untuk bisa menjadi salah satu perusahaan internet dan digital nomor satu dunia. Layanan yang terintegrasi dan saling tersinkronisasi adalah kuncinya.

Tentu kita sudah bosan membahas tentang perusahaan yang satu ini. Karena semua orang pemakai internet pasti mengenalnya. Tapi sebosan-bosannya kita dengan Google, tetap saja sulit bagi kita untuk meninggalkan berbagai produk dan layanan yang disediakan. Sebagai mesin pencari, Google telah menjadi titik pusat di internet; orang mencari segala sesuatu kebanyakan dimulai dengan situs pencari nomor satu ini.

Selain itu, strategi yang diterapkan Google memang sudah matang ketika memasuki era mobile dari era web browser. Google fokus mengembangkan segala aspek digital yang bisa mengubah tren hidup masyarakat digital. Kata kuncinya, “integrasi dan sinkronisasi”. Kini Google sangat nyaman digunakan baik dari smartphone, desktop, atau platform lainnya. Google Play Store juga menyimpan segudang apps yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Sekarang kita bisa merasakan semua apps digital seakan saling terhubung dan saling berbagi sumber data. Google membuat segala bagian atau fitur digital seakan menjadi satu kesatuan. Kini kita hanya perlu membuat satu nama akun, dan dengannya kita bisa mengakses semua fasilitas yang sudah disediakan Google. Ya, satu akun untuk semua, dan semuanya hanya dengan satu akun.

Dulu kita masih merasa semua teknologi dan aplikasi yang tersebar di sekeliling kita saling terpisah seperti potongan puzzle. Mereka eksis dengan fungsi-fungsi tertentu secara independen, tapi tidak berinteraksi satu sama lain. Sekarang semua aplikasi seakan mampu saling bekerja sama dan berbagi data.

Sampai kalau bermain game pun, semua progress bermain kita sudah otomatis tersinkronisasi dengan suatu server khusus. Jika aplikasi sudah dihapus pun, progress bermain kita sebenarnya masih tersimpan di dalam Google Play Games, dan siap dipanggil lagi jika dibutuhkan.

Segala aktivitas yang biasa dilakukan oleh konsumen digital sudah disediakan oleh Google, dan karena semuanya sudah saling terintegrasi dan sinkron, konsumen jadi nyaman dan terbiasa menggunakannya. Mereka pun susah pindah ke layanan lain. Sebut saja mulai dari browser Chrome, layanan e–mail Gmail, gudang video YouTube, media sosial Google+, peta Google Map, fasilitas simpan data Google Drive, Google Translate, Google Wallet, Blogger, dan masih banyak lagi.

Tentu saja Google bukan satu-satunya perusahaan yang menuju ke arah integrasi dan sinkronisasi layanan. Semua aplikasi sekarang sudah dibuat dengan memperhitungkan fitur ini. Facebook misalnya, berusaha menjadi lebih dari sekadar media sosial yang sukses. Mark Zuckerberg sendiri mempunyai visi “internet for everyone”, supaya semua orang di seluruh dunia bisa menikmati internet.

Facebook juga cepat melangkah untuk mendapatkan Instagram, karena mereka yakin segala fitur Instagram sangat sesuai jika diintegrasikan dengan Facebook. Plus walaupun Facebook sudah memiliki Messenger, Whatsapp pun disabet karena aplikasi itu adalah integrasi dan sikronisasi yang bagus untuk memperlancar komunikasi.

Selain itu, berbagai teknologi pun dikembangkan seperti teknologi server yang bisa menampung data berkapasitas supermega besar, dengan besar server mencakup area seluas hitungan hektare. Ada juga konsep smart home atau smart office dimana segala perangkat elektronik atau digital mulai dari blender, lampu, sampai printer atau mesin bubut bisa saling terintegrasi dan tersinkronisasi dengan program atau aplikasi di gawai.

Hasilnya adalah rumah yang bisa mengatur dirinya sendiri sesuai keinginan kita, atau kantor yang bisa melakukan berbagai pekerjaan bahkan ketika kita tidak berada di sana. Ya, bersiaplah untuk teknologi sekelas “Jarvis” milik Tony Stark dalam fim Iron Man.


Ivan Mulyadi

MM.05.2017/W